Senin, 14 November 2011

Yang Kian Dekat atau Jauh, terasa dan tawar


Menginjak malam kedua ramadhan, menjelang dini hari 2 Agustus 2011. Jam menunjuk angka 23.27 WIB area Jember, kampus Universitas Jember. Aku baru saja selesai menonton film “Wild Child”. Film yang benar-benar sukses membuatku menangis. Bukan tentang kenakalan dan naluri bebas remaja yang terdapat di dalamnya. Tapi tentang persahabatan dan tanggung jawab.
Sahabat, seperti yang dikatakan Frank Crane, adalah seseorang yang dengan bersamanya kita bisa menjadi diri sendiri. Mungkin tidak ada kesalahan jika aku menafsirnya bahwa sahabat tidak sekedar membuat kita menjadi diri sendiri, tapi juga mampu membantu kita menemukan diri sendiri, mengenal lebih dekat apa yang tidak kita ketahui tentang diri kita sendiri.
Itulah yang dialami Poppy Moore, tokoh utama dalam film ini. Pribadi ‘ugal-ugalan’, keras kepala dan berani berlebihan, adalah kata yang tepat untuk mendefinisi arti ‘anak bandel’. Aku cenderung lebih suka menggunakan kata ‘anak bandel’ daripada ‘anak nakal’. Mungkin karena aku diam-diam mulai menggarisbawahi arti dari ‘anak nakal’. Jika itu diperuntukkan bagi anak kecil yang jalan aja masih belum lancar, mungkin tidak bermasalah. Tapi jika diperuntukkan bagi remaja, maka aka nada ambigu untuk mendefinisinya. Jadi, istilah ‘anak bandel’ kurasa lebih bijak.
Karena kebandelan sang anak, Tn. Moore, ayah Poppy akhirnya mengirim Poppy ke sekolah berasrama di Inggris. Sekolah yang menurutku secara pribadi, sangat kaku dan lebay. Tapi cukup memberi arti kebersamaan dan persamaan derajat. Semua siswanya harus memakai seragam sekolah sepanjang waktu selama di sekolah itu. Tentu saja itu kunilai bagus…dengan begitu persamaan derajat jadi tanpa masalah. Tentunya, si Tn. Moore memiliki harapan agar poppy menjadi perempuan bertabiat baik, perempuan yang mandiri, bebas berpikir, pintar dan mampu menjadi teman selamanya… cukup jauh dari kepribadian Poppy saat ia tiba di sekolah itu. Adalah Abbey Mount, nama sekolah yang mendadak menjadi dunia lain yang menjijikkan bagi Poppy. Seorang ketua OSIS yang sok berkuasa dan tak ramah…serta tata tertib yang mendadak menjadi jeruji besi.
Beruntung, Poppy berada 1 kamar dengan seorang gadis yang ramah, penyayang dan sabar, Kate. Adalah Kate dengan ketiga teman sekamarnya, Dripsy, Josie dan Kiki yang kemudian membantu Poppy menyusun rencana untuk keluar dari asrama. Ketentuan seorang siswa akan dikeluarkan dari asrama apabila ia melakukan tindakan buruk yang membuatnya di sidang di pengadilan tinggi, semacam sidang di depan seluruh penghuni sekolah.
Langkah demi langkah dilakukannya, mulai dari mengerjai ketua OSIS, guru, penjaga asrama, hingga pola fashion saat pesta dansa, yang ujungnya bertujuan memacari anak kepala sekolah.
Dan disinilah letak dimana pertemanan itu diuji. Ombak itu memang tidak pernah lelah berdendang dan menghempas karang, seperti itulah, persahabatan kerap diuji oleh hal-hal yang sepele dan tak perlu. Berawal dari ketika Poppy lupa me-log out halaman e-mailnya, tangan iseng menjebaknya hingga semua teman dan juga anak kepala sekolah menjauhinya.
Tapi mungkin disitulah kekuatan kepercayaan. Kekuatan kepercayaan dari kepala sekolah, ayah dan teman-temannya itu,membuat Poppy terbebas dari sanksi dan menemukan siapa pelaku atas kebakaran di sekolah. Jadilah Poppy seorang jenderal tim sekolahnya dalam turnamen bola tongkat.
Kadang kita tidak pernah tau, kenapa Tuhan membuat kita berada di tempat yang tidak pernah kita inginkan. Seperti Poppy yang tidak pernah menerima keputusan ayahnya menempatkannya di sekolah berasrama. Tapi semua orang menyayangi anaknya, ayah Poppy pun demikian. Poppy yang haluannya adalah keluar dari sekolah itu, akhirnya memutar haluan untuk bertahan, setelah akhirnya ia tau bahwa ibunya dulu adalah siswi di sekolah itu, dan menjadi jendral kemenangan sekolahnya pada turnamen bola tongkat tahun 1976. Itulah terakhir kali sekolah itu memenangkannya.
Yupz… seperti aku yang tak pernah tau apa maksud Tuhan mendamparkan hidupku di Jember ini. Mungkin karena jalan hidupku bukan film yang berdurasi 2 jam, tentu sulit menemukan jawaban Tuhan, termasuk ketika aku memasuki taun keempatku di Jember ini. Tuhan, masihkah Kau akan membisu atas tanyaku ini?
Menonton film ini membuatku iri total. Aku berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Di Jember ini, aku tidak memiliki sahabat seperti keempat teman Poppy, yang bahkan tidak butuh waktu lama untuk percaya, menopang dan selalu ada. Aku juga tidak memiliki kepala sekolah yang sabar dan yakin dalam mempercayai siswanya. Aku juga tidak menemukan orang yang membuatku merasa kecurian hati. Semua datar-datar saja. Tak ada yang menarik, tapi menyebalkan ada dan tersedia.
Berbicara kepercayaan, di Jember ini aku tidak seberuntung Ny. Kingsley (Kasek Abbey Mount), yang harga kepercayaannya dibayar lunas dengan sempurna oleh Poppy. Kepercayaanku pada Diana dan Fika dibayar dengan harga ketidakhadiran. Betapa percayanya aku kepada Diana dan Fika, untuk urusan kepanitian dan pelaksanaan Prokerku di HMP. Tapi mereka laksana gudeg, jika petang begitu menggoda, maka dini hari setelahnya sudah bisa dipastikan ia akan basi. Percaya pada mereka, seperti memasak air. Semakin ku percaya, semakin air kupanasi, maka air akan menguap dan akan semakin habis, dan aku tidak mendapatkan air hangat, menguap juga seluruh kepercayaan yang kuberikan. Mungkin tidak jauh berbeda seperti petani di Lereng Gunung Bromo saat Gunung Bromo batuk-batuk beberapa waktu lalu. Modal yang digelontorkan untuk bertani sekian besar, tapi mendadak semua buyar karena erupsi Bromo. Modal kepercayaan yang kuberikan adalah tingkat tinggi, namun aku harus rugi besar karena modal pun bahkan tak kembali.
Diana dan Fika, sekarang ditambah Kosim, turut serta membuatku bangkrut kepercayaan. Mereka sukses membuatku sakit dan kecewa. Ternyata mereka tidak lebih tebal dari kulit ari.
Akhirnya, aku berpikir bahwa aku harus segera tutup buku untuk bertanam modal kepercayaan kepada mereka. Telah dengan susah payah aku bangkit dari gagal panen.
Tapi…mereka mungkin tidak pernah tau…karena mereka tidak pernah menanam. Hanya akulah yang selalu bertanam… atau mungkin mereka juga bertanam, dengan cara yang tak pernah ku ketahui.

Jumat, 22 Juli 2011

50 Hari Menuju Kegiatanku

50 hari menuju kegiatanku. sangat dekat, tak ada waktu bercakap-cakap. Dan akhirnya aku sadar bahwa aku tak perlu meminta lagi pada mereka untuk datang. Mereka, kedua cewek sahabatku di kampus menjenuhkan ini. Aku tak perlu mengemis lagi, tak perlu mengatakan bahwa aku butuh mereka. Sekarang, biarlah aku berjalan dengan sisa kaki yang ada.
Selamat Tinggal, Diana dan Fika. semog akalian bahagia di tempat baru kalian. Semoga disana, kalian tidak bertemu lagi dengan orang sepertiku.

Sabtu, 16 Juli 2011

Hewan yang Pandai


Kalian boleh maju dalam pelajaran mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra kalian hanya hewan yang pandai. (Magda Peters dalam Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer)”
Kalimat itu tertulis jelas di cover belakang sebuah buletin yang ku baca seminggu yang lalu. Buletin itu kudapatkan dari seorang kawan,sesama rekan Pers Mahasiswa di Jember ini. Membaca kalimat tersebut aku terhenyak. Aku memang belum beruntung untuk membaca karya besar dari sastrawan negeri ini yang ditulisnya dari balik jeruji besi. Dan aku merasa semakin tidak beruntung lagi membaca tulisan itu. Di ruang tempat aku belajar saat ini, aku sungguh merasa menjadi bagian dari obyek yang ada pada frase terakhir kalimat itu, hewan yang pandai, dan aku tak sendiri, aku bersama dengan hewan-hewan pandai lainnya, yang justru lebih pandai dan lebih hewan lagi.
Dulu sekali sewaktu pertama kali mengenal huruf, aku begitu ingin menjadi seorang guru. Bagiku, guru adalah pelita dan kunci untuk membuka pintu dunia. Tapi setelah aku mengenal kalimat, cita-cita itu berubah. Aku ingin menjadi sastrawan. Begitu inginnya aku menjadi penulis. Kugantung cita-cita itu, Tuhan, setinggi biru lazuardi-Mu. Menurutku, menurut pemikiran anak sepuluh tahun, menulis itu merekam jejak. Dengan menulis setidaknya aku mungkin lebih bisa memberi lentera pada gelap orang lain, sekalipun tidak semua hewan-hewan pandai yang Kau cipta itu bisa membaca lentera yang ada. Bukankah Albert Einstein tidak akan mungkin bisa dikenal lewat teori Relativitasnya jika ia tidak menuliskannya? Dan Kahlil Gibran dengan kalimat-kalimat cintanya juga tidak akan pernah dijadikan panutan perempuan-perempuan dan lelaki-lelaki lebay. Serta Bloom, yang teori pendidikannya menjadi tonggak dunia dan dianut oleh banyak pendidik, tidak akan pernah dikenal dan diketahui jika ia tidak pernah menuliskannya.
Namun cita-cita yang tergantung tinggi itu masih saja tetap tergantung. Tak ada dayaku untuk menyentuhnya sekarang, Tuhan. Dan aku baru sadar bahwa aku terlalu banyak bertoleransi pada diriku ini. Aku memilih ruang belajarku sekarang demi menyenangkan banyak hati. Aku kesini dengan harapan untuk menjadi kunci bagi pintu dunia. Aku kesini dengan bermodal selembar ijazah SMA-ku, dengan tekad, setelah dari sini nanti aku akan menjadi sosok yang mampu membuka jendela dunia bagi ribuan anak. Seperti apa yang selalu dikatakan Bapak Slamet, guru sekaligus wali kelas  SMA-ku yang perfecto numero uno. Beliau tak hentinya berkata, bahwa guru adalah motor kemajuan negeri ini, dan beliau membuktikan ucapannya dengan benar-benar menjadi sosok guru yang tak hanya bisa mengajar, tapi juga mendidik. Masih selalu ku ingat dengan jelas, setiap apa dan bagaimana yang dikatakannya.
Kalau kau bertanya tentang harga dari sebuah proses dan hasil, aku akan setuju dengan pendapatnya, proses itu lebih penting, karena itu bekal. Ketika kau mengoperasi hitung matematika dari 2 + 2, sebelum menjawab = 4, kau akan menghitungnya dengan 2 jari tanganmu dengan 2 jari tangan yang lain. Itu proses. Tapi ketika kau lebih percaya hasil, kau tak akan mendapatkan hal yang sama jika media prosesmu berbeda. Kau tidak mungkin menuliskan = 6 untuk 2 + 3. Dan di dalam proses itu, kejujuran adalah kunci, seberapa besar hasil yang didapatkan.
Tidak bisa kupungkiri bahwa aku pun kesini karena beliau, karena begitu bangganya aku pada sosok yang kita sebut guru. Betapa dunia ini berwarna karena hadirnya, karena sentuhan lembut dari tangan dan hatinya.
Tapi kini aku sadar, lakon itu sudah berubah. Kau tak akan pernah mendapatkan tempat spesial di hati gurumu jika kau hanya mampu menghadirkan warna merah di raportmu. Terlebih jika huruf C atau D itu bercokol di IPK-mu. Kau hanya akan menjadi penghuni abadi di kampusmu, termasuk jika kau mampu membawa nama baik almamatermu, tanpa memiliki angka A di IPK-mu.
Susah mungkin dijawab ketika seseorang bertanya, “setiap kurikulum disusun dengan juga memperhatikan moral dan kepribadian peserta, lalu kenapa ketika mereka lulus dan menjadi orang ternama, mereka malah memilih jalan korupsi?”
Tapi mungkin tidak berlebihan jika kita menjawabnya dengan alur yang lebih panjang tentang bagaimana dia bisa lulus? Bagaimana ujian-ujiannya selama ia menuntut ilmu? Apa yang dia lakukan untuk lulus dalam mata pelajaran atau kuliah yang diikutinya? Dan sekali lagi, aku merasa sebagai hewan yang dikatakan Magda Peters. Sering kita menyempitkan arti sastra hanya sebatas kata dan frase. Tak pernah ada yang berpikir bahwa di dalamnya ada pribadi. Dan itulah sesuatu yang sering orang tanggalkan. Akibatnya ketika seseorang mulai berani membaca hidup ini, seringkali hanya ada satu sisi yang terbaca, ‘bagaimana perut bisa terisi’. Dan bukan tidak mungkin jika jawabannya adalah salah satu malapetaka dari bumi ini.
Kampus tempat aku menghabiskan hari-hariku selama hampir tiga tahun ini benar-benar tak mampu memberikan bekal hidup seperti yang aku harapkan. Karena disinilah aku belajar melanggar, berbohong dan mengingkari. Disinilah aku diajari secara profesional untuk mengatakan tidak atas iya dalam hati, menuliskan 25 atas 52 dalam pikir. Disinilah aku menikmati dan belajar menjadi calon penerus penjahat negara. Belajar bagaimana ‘berbohong itu boleh demi kebaikan’. Kebaikan siapa, Tuhan? Bukankah itu tak pernah baik menurut-Mu? Engkau pun pasti telah menyiapkan sepaket voucher neraka-Mu untuk setiap kebohongan demi kebaikan itu!
Hatiku mendadak teriris, Tuhan, ketika menyaksikan salah satu film yang disutradarai Iqbal Rais. Dalam film itu ada satu adegan yang mengingatkan pada semua penontonnya bahwa sekolah, kuliah dan belajar bukan hanya untuk mengasah otak, tapi mengisi hati, membenahi hati. Dan disini hatiku hanya terisi kebohongan demi kebohongan, pelanggaran demi pelanggaran yang mendadak menjadi halal untuk nilai minimal B di IPK. Karena dengan itulah aku bisa dinyatakan lulus. Tidak akan pernah bertanya bagaimana kamu melalui setiap ujian semestermu, yang akan ditanyakan adalah berapa IPK-mu di akhir semester? Coba kau lihat pamflet-pamflet atau iklan lowongan kerja yang terpampang di papan pengumuman atau halaman khusus di koran-koran, semua yang ditanyakan adalah tingkat kelulusan dan IPK. Makanya tak perlu heran ketika semua cara akan dihalalkan hanya demi nilai minimal B untuk masa depan cerah dan prospek mulus dapat pekerjaan. Dan jika pelaksanaan ujian dilaksanakan tanpa penentuan nomor bangku sesuai nomor absen, maka bisa dipastikan jika kursi paling belakang akan terisi lebih awal. Dan ironisnya perilaku itu justru dianut oleh sebagian besar pelajar yang mengaku dirinya beragama Islam. “Tempat duduk menentukan prestasi”, begitulah katanya. Prestasi yang bagaimana? Tuhan, aku benar-benar tidak mengerti, mungkin maksudnya adalah membuat prestasi.
Dalam agamaku dan agama mereka, Islam, mencari ilmu adalah ibadah. Dan dalam beribadah, khusunya sholat, shaf terdepan adalah yang terbaik. “Rapatkan shafnya!” begitu yang selalu dikatakan oleh imam sholat sebelum sholat dimulai, sebagai indikasi bahwa barisan terdepan tidak boleh ada yang kosong, harus terisi lebih dulu sebelum yang belakangnya. Apakah itu hanya ada dalam sholat? Mungkin begitulah! Tidak boleh membawa agama dalam hal ujian! Buang jauh-jauh nilai kejujuran dan kemurnian dalam ujian! Karena jika kau masih memikirkan agama, kejujuran dan bayaran Tuhan, kau hanya akan menjadi penghuni abadi di kampus ini. Bukankah semua sama-sama tau bahwa zaman sudah modern, sekolah dan kuliah atau kita sebut dengan istilah belajar, telah bergeser posisinya, layaknya pergeseran lempeng bumi. Belajar bukan lagi untuk hati, tapi untuk otak. Itu pun menjadi sah, ketika otak mampu berputar untuk berbohong.
Aku mengalami momen buruk pada perkuliahanku di semester ketiga dan kelima. Aku mengalami nasib yang tidak menguntungkan atas semua janji Tuhan yang kuyakini. Aku bekerja keras untuk bisa menyelesaikan dengan baik kedua semester itu. Aku belajar keras demi menyelesaikan 21 sks yang ku tempuh akibat nilai 2,58-ku di akhir semester kedua. Aku bekerja keras untuk mata kuliah Taksonomi Hewan Invertebrata, Strategi Belajar Mengajar, Struktur Hewan, Struktur Perkembangan Tumbuhan 2, Genetika dan Biokimia. Aku kerjakan semua tugas secara orisinil, semua laporan ku kerjakan dengan hasil pemikiranku sendiri, bukan dari laporan dokumentasi senior seperti yang dilakukan olah sebagian besar penghuni kelasku. Kuikuti perkuliahan tanpa satupun titip absen seperti tradisi mahasiswa masa kini. Tapi mendadak semua kerja keras itu tak terbayar dengan pasti. Aku mendapatkan nilai C untuk keempat mata kuliah terakhir (Struktur Hewan, Struktur Perkembangan Tumbuhan 2, Genetika dan Biokimia).
Untuk mata kuliah Struktur Hewan, ada insiden memalukan yang dilakukan oleh beberapa calon guru di kelasku, oleh calon pendidik generasi bangsa yang berkualitas. Ceritanya, dosen kami terkenal dengan soal UAS (Ujian Akhir Semester) yang selalu sama tiap tahunnya. Salah seorang temen memiliki copy soal tahun sebelumnya. Kelasku memang kompak, termasuk untuk berbohong demi nilai spektakuler dan syarat menjadi asisten, sebagian besar mau berjamaah. Semua penghuni kelas mendapat kabar terkait bocoran soal, jadilah semua memfotocopy soal tersebut. Mengerjakannya, kemudian menghafalkan. Tapi ternyata ada beberapa calon guru tadi yang justru melakukan tindakan bodoh dan jauh dari nilai sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi. Mereka membuat jawaban pada kertas jawaban yang biasa dipakai pada saat ujian dan membuat contekan di kertas. Alhasil, pengawas ujian mengetahui ketidakjujuran tersebut. Beberapa bukti diamankan dan berita acara UAS mendadak terisi dengan catatan cacat mahasiswa, rekan sekelasku sendiri, rekan yang kubanggakan karena kecemerlangan otak dan kemampuannya menghafal. Yang terjadi kemudian adalah seluruh isi kelas harus mengulang UAS. Dan akhir nilaiku adalah C. Huruf itu pun masih bercokol dalam lembar hasil study-ku hingga detik ini, Tuhan. Dan aku pun tetap mencoba percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik. Aku pun tak marah, meski mereka, beberapa calon guru anarkis itu tidak sepatah katapun meminta maaf. Aku benar-benar malu melihat jilbab mereka terurai menutup aurat, menutupi pikiran kotor dan tak bertanggung jawab yang tersembunyi di dalamnya. Itukah yang Kau bahwa jilbab adalah pelindung diri, Tuhan? Ya, mungkin benar, tapi bukan pelindung jiwa.
Struktur Perkembangan Tumbuhan dan Biokimia, entah apa penyebabnya kenapa aku bisa mendapat nilai C. Aku merasa tidak ada yang tidak beres. Hanya Tuhanlah yang tau, bagaimana kerja kerasku. Aku pun hanya mampu menghela napas, semoga itu bulan label kebodohanku.
Genetika, mata kuliah yang paling aku sukai dan materi yang paling aku gilai sejak SMP. Aku bekerja keras sampai benar-benar lelah, Tuhan. Aku mengikuti perkuliahan dengan sangat bersemangat. Kukerjakan laporan dan tugas secara orisinil. Tapi aku hanya mendapat nilai C. Itupun dari hasil remedial. Aku bersedih, Tuhan! Sangat sedih! Yang membuat aku kecewa bukan karena nilai C yang bercokol di LHS-ku, tapi karena nilai kelasku adalah nilai kebohongan. Ada banyak temanku yang justru hanya titip absen pada saat kuliah, mengerjakan laporan dengan menyalin dokumentasi tahun sebelumnya, justru mendapat nilai B. Tuhan, aku hanya ingin tau, apakah proses penilaian seperti yang kupelajari dalam Evaluasi Hasil Belajar juga diterapkan dalam pembelajaran di perkuliahan? Atau itu hanya untuk diketahui saja, dilalui sebagai suatu acuan bahwa kami mahasiswa berpendidikan, calon guru? Jika benar, aku tidak mau menjadi pendidik, jika ilmuku hanya menjadi etalase, teori tak pernah benar. Aku tidak mau menjadi pendidik, jika membuat nilai peserta didik cukup dengan tiduran. Atau bagaimana? Tunjukkan padaku, bahwa itu tidak benar, Tuhan. Tunjukkan padaku bahwa masih ada hal yang patut aku banggakan dari seorang pendidik, dosen atau pun guru, agar kepergianku ke Jember ini memberi manfaat.
Dan akhirnya, Tuhan menjawabnya dengan beban SKS maksimal 18 untukku di semester keempat. Aku mencoba melewatinya dengan membesarkan hati. Kutabahkan hati atas semua celoteh teman-teman, “kenapa bisa?”
Kulalui hari-hari berat itu, Tuhan, dengan tak ada lagi semangat. Pikirku mulai liar, bagiku, kuliah adalah terapi untuk kebohongan, semakin dilakukan dengan rajin, maka akan semakin banyak tumpukan dusta yang tercipta. Aku pun akhirnya mampu melihat, beberapa teman mulai menghindar, mungkin karena takut tertular spesialis C. Dan aku bisa menerima itu. Tapi aku bertekad, bahwa di akademik, aku memang di bawah mereka, tapi di luar sana, aku akan membuat mereka membungkuk hormat dan tak mampu merengkuh apa yang kulakukan.
Aku pun membuktikannya. Aku menjadi sibuk dimana-mana, di Jember ataupun di Probolinggo. Mendadak semua kegiatan yang kulakukan menjadi level nasional. Aku adalah satu-satunya mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Unej yang menjadi Panitia dalam rangkaian kegiatan Kongres Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia, di tingkat nasional. Sebelumnya, di lingkup fakultas, aku menjadi pengurus BEM. Bukan menyombongkan diri, tapi sebagai sesama ‘hewan-hewan pandai’ yang nilai akademiknya di atasku, belum ada yang menyamai sepak terjangku di luar kuliah.
Menjadi mahasiswa idealis, mementingkan proses dan mencoba percaya Tuhan, adalah sampah bagi mahasiswa modern masa kini, yang tujuan kuliahnya adalah cari kerja dan dapat makan. Di luar sana, sesama aktivis, aku mendapat tempat yang cukup untuk berbahagia. Dan tak ada kejenuhan. Sementara di kelas, aku hanya berada dalam persaingan-persaingan munafik, jauh dari sportifitas. Ketidakjujuran itu halal untuk nilai B.
Dan lagi-lagi, aku terkaget dengan pola penilaian di kampusku ini. Di akhir semester keempat, nilai IPK-ku menanjak jauh, diatas 3. “Bagus sekali. Selamat ya!” celotehan itu pun berbeda. Hemmm... hewan hanya tau daging itu lezat, daun itu nikmat!
Semester kelima, aku menempuh 24 SKS, dengan 21 SKS yang ditawarkan di semester kelima dan 3 SKS sisa semester ketiga yang belum sempat kutempah (waktu itu IPK-ku tidak cukup untuk kutempuh). Bukan masalah bagiku. Aku pun percaya, proses beratlah yang akan mengantarkan seseorang itu mampu membaca banyak hal. Begitu pun aku. Jika ada orang yang mengatakan bahwa manusia akan tau manis yang sebenarnya jika dia pernah merasakan pahit. Dan aku merasakannya waktu itu, Tuhan. Ketika LHS yang tampak di monitor laptop yang on itu menunjukkan huruf D di mata kuliah Fiologi Tumbuhan dan huruf C di matakuliah Fisiologi Hewan. Apakah aku sebodoh itu untuk kedua matakuliah itu, Tuhan?

Rabu, 13 Juli 2011

Trim's, Kawan!


“Kawan, trims banget ya… telah selalu ada di sisiku menjalani hari-hari sulit ini.”
Hanya itu yang mampu aku katakan pada Bee, Alief, Ratna, Adam’z, Tuyul dan Bunda. Itu pun melalui sms, rasanya air mata ini pengen aja tumpah, terharu banget, merasakan kesetiaan dan keikhlasan mereka untuk berada di sampingku, menemaniku menjalani hari-hari sulit, mempersiapkan olimpiade.
Rasanya sulit untuk dimengerti, bila merunut tentang kekerabatan awal! Ah, rasanya hukum klasifikasi tidak dapat diterapkan dalam urusan keikhlasan manusia. “Semakin dekat, semakin banyak persamaannya!” Begitulah! Tapi sekarang aku percaya bahwa itu tidak benar.
Lagi-lagi yang dikatakan Tuhan kepadaku tidak terbukti!!!!
Mereka yang kuharapkan, mendadak menjadi tokoh dongeng yang nisbi, pseudo kata Pak Wachju; semu, tidak jelas.
Mungkin ini jalan yang harus aku tempuh…. Berada dalam kenisbian orang-orang terdekat. Dan akhirnya aku tau, kepada siapa seharusnya aku harus berterima kasih! Kepada mereka yang tetap berada di sisiku saat aku terjatuh dan menjalani hari-hari sulit. Mereka, Bee, Alief, Ratna, Adam’z, Tuyul dan Bunda, yang merelakan segenap waktunya….untuk membantuku, menguatkan batin dan ragaku.
Dimana Diana? Dimana Fika? Orang yang kepada mereka kurelakan nyawa dan bahagiaku. Kurelakan kakakku membenciku, demi Diana; kurelakan Insan yang bahkan tidak mau bertegur sapa lagi denganku, demi Fika. Kurelakan keangkuhanku untuk mengemis maaf pada kakakku dan Insan! Kurelakan semua orang terdekat itu menghakimiku, demi Diana dan Fika.
Tau bagaimana rasanya kehilangan, Kawan? Mungkin mereka berdua tidak pernah tau, aku dan mereka berdua sebelumnya hidup di dunia berbeda. Duniaku adalah dunia yang penuh dengan rasa saling memiliki satu sama lain, mengasihi, mengangkat lebih tinggi saat yang lain terjatuh dan setia menyangga kepala yang mulai lelah.
Dimana Trio? Orang yang memintaku dengan sangat halus untuk membantunya di HMP??? Dimana mereka yang kurelakan waktu dan kesabaranku untuknya?
Apa yang dikatakan seseorang itu benar, tak ada manusia yang sempurna untuk dipercaya…