Menginjak malam kedua ramadhan, menjelang dini hari 2 Agustus 2011. Jam menunjuk angka 23.27 WIB area Jember, kampus Universitas Jember. Aku baru saja selesai menonton film “Wild Child”. Film yang benar-benar sukses membuatku menangis. Bukan tentang kenakalan dan naluri bebas remaja yang terdapat di dalamnya. Tapi tentang persahabatan dan tanggung jawab.
Sahabat, seperti yang dikatakan Frank Crane, adalah seseorang yang dengan bersamanya kita bisa menjadi diri sendiri. Mungkin tidak ada kesalahan jika aku menafsirnya bahwa sahabat tidak sekedar membuat kita menjadi diri sendiri, tapi juga mampu membantu kita menemukan diri sendiri, mengenal lebih dekat apa yang tidak kita ketahui tentang diri kita sendiri.
Itulah yang dialami Poppy Moore, tokoh utama dalam film ini. Pribadi ‘ugal-ugalan’, keras kepala dan berani berlebihan, adalah kata yang tepat untuk mendefinisi arti ‘anak bandel’. Aku cenderung lebih suka menggunakan kata ‘anak bandel’ daripada ‘anak nakal’. Mungkin karena aku diam-diam mulai menggarisbawahi arti dari ‘anak nakal’. Jika itu diperuntukkan bagi anak kecil yang jalan aja masih belum lancar, mungkin tidak bermasalah. Tapi jika diperuntukkan bagi remaja, maka aka nada ambigu untuk mendefinisinya. Jadi, istilah ‘anak bandel’ kurasa lebih bijak.
Karena kebandelan sang anak, Tn. Moore, ayah Poppy akhirnya mengirim Poppy ke sekolah berasrama di Inggris. Sekolah yang menurutku secara pribadi, sangat kaku dan lebay. Tapi cukup memberi arti kebersamaan dan persamaan derajat. Semua siswanya harus memakai seragam sekolah sepanjang waktu selama di sekolah itu. Tentu saja itu kunilai bagus…dengan begitu persamaan derajat jadi tanpa masalah. Tentunya, si Tn. Moore memiliki harapan agar poppy menjadi perempuan bertabiat baik, perempuan yang mandiri, bebas berpikir, pintar dan mampu menjadi teman selamanya… cukup jauh dari kepribadian Poppy saat ia tiba di sekolah itu. Adalah Abbey Mount, nama sekolah yang mendadak menjadi dunia lain yang menjijikkan bagi Poppy. Seorang ketua OSIS yang sok berkuasa dan tak ramah…serta tata tertib yang mendadak menjadi jeruji besi.
Beruntung, Poppy berada 1 kamar dengan seorang gadis yang ramah, penyayang dan sabar, Kate. Adalah Kate dengan ketiga teman sekamarnya, Dripsy, Josie dan Kiki yang kemudian membantu Poppy menyusun rencana untuk keluar dari asrama. Ketentuan seorang siswa akan dikeluarkan dari asrama apabila ia melakukan tindakan buruk yang membuatnya di sidang di pengadilan tinggi, semacam sidang di depan seluruh penghuni sekolah.
Langkah demi langkah dilakukannya, mulai dari mengerjai ketua OSIS, guru, penjaga asrama, hingga pola fashion saat pesta dansa, yang ujungnya bertujuan memacari anak kepala sekolah.
Dan disinilah letak dimana pertemanan itu diuji. Ombak itu memang tidak pernah lelah berdendang dan menghempas karang, seperti itulah, persahabatan kerap diuji oleh hal-hal yang sepele dan tak perlu. Berawal dari ketika Poppy lupa me-log out halaman e-mailnya, tangan iseng menjebaknya hingga semua teman dan juga anak kepala sekolah menjauhinya.
Tapi mungkin disitulah kekuatan kepercayaan. Kekuatan kepercayaan dari kepala sekolah, ayah dan teman-temannya itu,membuat Poppy terbebas dari sanksi dan menemukan siapa pelaku atas kebakaran di sekolah. Jadilah Poppy seorang jenderal tim sekolahnya dalam turnamen bola tongkat.
Kadang kita tidak pernah tau, kenapa Tuhan membuat kita berada di tempat yang tidak pernah kita inginkan. Seperti Poppy yang tidak pernah menerima keputusan ayahnya menempatkannya di sekolah berasrama. Tapi semua orang menyayangi anaknya, ayah Poppy pun demikian. Poppy yang haluannya adalah keluar dari sekolah itu, akhirnya memutar haluan untuk bertahan, setelah akhirnya ia tau bahwa ibunya dulu adalah siswi di sekolah itu, dan menjadi jendral kemenangan sekolahnya pada turnamen bola tongkat tahun 1976. Itulah terakhir kali sekolah itu memenangkannya.
Yupz… seperti aku yang tak pernah tau apa maksud Tuhan mendamparkan hidupku di Jember ini. Mungkin karena jalan hidupku bukan film yang berdurasi 2 jam, tentu sulit menemukan jawaban Tuhan, termasuk ketika aku memasuki taun keempatku di Jember ini. Tuhan, masihkah Kau akan membisu atas tanyaku ini?
Menonton film ini membuatku iri total. Aku berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Di Jember ini, aku tidak memiliki sahabat seperti keempat teman Poppy, yang bahkan tidak butuh waktu lama untuk percaya, menopang dan selalu ada. Aku juga tidak memiliki kepala sekolah yang sabar dan yakin dalam mempercayai siswanya. Aku juga tidak menemukan orang yang membuatku merasa kecurian hati. Semua datar-datar saja. Tak ada yang menarik, tapi menyebalkan ada dan tersedia.
Berbicara kepercayaan, di Jember ini aku tidak seberuntung Ny. Kingsley (Kasek Abbey Mount), yang harga kepercayaannya dibayar lunas dengan sempurna oleh Poppy. Kepercayaanku pada Diana dan Fika dibayar dengan harga ketidakhadiran. Betapa percayanya aku kepada Diana dan Fika, untuk urusan kepanitian dan pelaksanaan Prokerku di HMP. Tapi mereka laksana gudeg, jika petang begitu menggoda, maka dini hari setelahnya sudah bisa dipastikan ia akan basi. Percaya pada mereka, seperti memasak air. Semakin ku percaya, semakin air kupanasi, maka air akan menguap dan akan semakin habis, dan aku tidak mendapatkan air hangat, menguap juga seluruh kepercayaan yang kuberikan. Mungkin tidak jauh berbeda seperti petani di Lereng Gunung Bromo saat Gunung Bromo batuk-batuk beberapa waktu lalu. Modal yang digelontorkan untuk bertani sekian besar, tapi mendadak semua buyar karena erupsi Bromo. Modal kepercayaan yang kuberikan adalah tingkat tinggi, namun aku harus rugi besar karena modal pun bahkan tak kembali.
Diana dan Fika, sekarang ditambah Kosim, turut serta membuatku bangkrut kepercayaan. Mereka sukses membuatku sakit dan kecewa. Ternyata mereka tidak lebih tebal dari kulit ari.
Akhirnya, aku berpikir bahwa aku harus segera tutup buku untuk bertanam modal kepercayaan kepada mereka. Telah dengan susah payah aku bangkit dari gagal panen.
Tapi…mereka mungkin tidak pernah tau…karena mereka tidak pernah menanam. Hanya akulah yang selalu bertanam… atau mungkin mereka juga bertanam, dengan cara yang tak pernah ku ketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar