Sebegitu sulitkah melupakan seseorang??? Selama ada waktu sejenak, aku membuka salah satu e-mailku yang sudah lama tidak pernah kubuka. terdapat ratusan pesan masuk. Tumben banget aku mau membukanya dengan lebih sabar, dan salah satu e-mail itu benar-benar membuatku tidak tau harus merasa bersalah, sukses atau gagal. E-mail dari seseorang, yang pernah berada di sisiku...dan tak boleh kusebut namanya. Dia yang pernah memanggilku dengan nama Tata... Pesan yang tiba di e-mailku, September 2011 lalu...sangat lama.
"Untukmu yang pernah memberi warna jingga dalam hidupku....
Tata, taukah kamu apa yang sedang aku lakukan saat ini? Pasti kamu tidak akan pernah ingin tau. Bukankah kamu telah memutuskan untuk tidak pernah ambil peduli lagi pada keadaanku semenjak kejadian itu. Semenjak kau katakan bahwa aku tak akan pernah mendapatkan kepercayaan lagi darimu. Dan aku selalu paham, kamu tak pernah sekedar bicara. Kamu memang selalu pandai menyampaikan semuanya padaku sehalus mungkin, tapi sesungguhnya kau telah menusuk hatiku teramat dalam lewat kehalusan tuturmu. Tapi aku lebih paham lagi. Itu adalah hukuman bagiku di balik semua sikapmu yang selalu diam saja tiap aku menyakitimu.
Mungkin Adi benar, aku tak pernah tau apa-apa tentang kamu. Aku tak pernah sadar telah menyakitimu sampai akhirnya aku kehilanganmu. Itu pun baru aku sadari setelah bayangmu semakin jauh dan tak mampu kusentuh lagi. Kau tau, Tata, aku selalu membutuhkanmu. Termasuk ketika aku menyakitimu, yang akhirnya kusadari.
Tapi biarlah. Kamu memang tak akan pernah peduli. Bahkan aku akhirnya ragu, jika nanti aku mati, apakah kamu akan datang untuk ikut menaburkan bunga di pusaraku? Lebih tepatnya itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Aku telah terlanjur melipatgandakan kesalahanku padamu dengan berulah di luar kewarasan.
Taukah kau, Tata, saat ini aku sedang berada di tepi jembatan tempat dulu kita pernah bersama-sama menikmati keindahan alam pedesaan di bawah sana, menunggu senja tiba. Disini aku bisa mengenangmu sepuas mungkin, meski kepuasan itu tak pernah berujung kebahagiaan lagi.
Aku selalu menghargai sikapmu. Terlebih ketika kamu lebih mementingkan kawan-kawanmu daripada aku. Aku hargai itu. Tapi kamu tentu tau bahwa aku manusia yang memiliki perasaan. Aku tidak bisa terus-menerus mengerti. Aku merasakan cemburu yang teramat sangat. Kata orang, cemburu itu pertanda cinta. Aku cemburu pada mereka, Tata. Lebih-lebih semua temanmu adalah laki-laki yang sama sepertiku. Bukan tidak mungkin jika mereka juga memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku padamu. Tapi kamu tidak pernah mengerti. Karena kamu tidak pernah cemburu. Itu kuketahui karena kamu tak pernah marah atau sedikit menegurku jika aku bersama cewek lain, sekalipun mereka hanya teman biasa. Aku kadang marah karena tak bisa membuatmu cemburu. Aku takut jika kamu tidak mencintaiku, dan mungkin itu memang benar. Kamu tak pernah mencintaiku. Kamu tidak pernah merasakan sakit lagi saat kita berpisah dan kamu tak pernah ingat lagi padaku. Mungkin kau telah menyapu bersih semua yang ada di hatimu tentang aku.
Kau tau, Tata, aku berharap bisa bersamamu kembali. Namun mungkin kau tak kan pernah mewujudkannya lagi karena aku hanyalah bayang usang dalam perjalanan hidupmu. Dan warna yang aku tawarkan kepadamu hanya hitam dan kelabu, warna yang mungkin membuat semua orang merasa ngeri. Berbeda denganmu, yang mampu menghadirkan warna jingga dalam hidupku, bersama riak tawa dan bahagia. Itulah kenapa aku tak pernah ingin bila kamu bersama yang lain. Aku selalu takut kehilanganmu, makanya aku sampai lupa cara untuk melindungimu. Harusnya aku paham, bahwa kamu bukan perempuan seperti kebanyakan, yang selalu ingin diperhatikan, ditelepon, diberi hadiah. Kamu adalah perempuan yang berbeda. Kamu tidak suka diberi hadiah, tidak suka diperhatikan, tidak suka dipuji dan tidak suka diajak ngobrol lewat telepon. Yang terakhir aku sadari betul saat aku menjalani bulan penuh keheningan di kota Solo, sebulan penuh, tanpa dirimu. Dan selama itu, seharusnya kita saling merindukan, seperti aku yang tak pernah mampu melewatkan wajahmu dalam setiap detik waktuku. Sungguh aku ingin mendengar suaramu, karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengobati rindu. Tapi aku sungguh kecewa karena ternyata kamu lebih mementingkan kegiatan-kegiatanmu daripada sebentar saja meluangkan waktu untuk mengangkat teleponku. Pernah sekali waktu kamu bilang, “Lebih baik ngobrol secara langsung. Jadi aku bisa tau bahwa yang kamu katakan itu benar!” itu katamu.
Beberapa waktu setelah kita berpisah, aku melalui hari-hariku dengan berkawan nikotin dan alkohol, sesuatu yang kau larang keras untuk ku lakukan. Tapi saat itu aku tak mampu lagi mendengar laranganmu. Karena kau pun tak pernah mau ada untukku. Kamu pergi meninggalkanku dengan alasan kesalahan yang kuperbuat. Sebegitu besarkah kesalahanku sampai tak ada sedikit pun maaf untukku darimu?
Dan aku semakin jatuh. Cita-cita yang kugantung setinggi langit pun akhirnya hanya tinggal bayangan hantu bagiku. Aku tak lagi bisa meraihnya karena sejak kau memutuskan untuk meninggalkanku, aku pun memutuskan untuk tak lagi menyentuh segala hal yang membuatku mengingatmu, termasuk cita-citaku. Aku gantungkan cita-citaku setinggi langit, kemudian kuhempaskan jatuh.
Bukan bermaksud menyalahkanmu, Tata. Tapi semua berasa sirna semenjak kau pergi. Dan anehnya aku tak mampu menghapus pergi bayanganmu dari benakku, hingga saat ini. Di depan perempuan lain, aku tampak begitu tegarnya. Tapi di depanmu, aku tak lebih dari seonggok es batu yang akan segera lebur saat panas tiba. Rapuh sekali. Entahlah, tapi memang hanya di depanmua kau berani jujur tentang kerapuhan jiwaku. Itu bukti betapa percayanya aku padamu. Aku begitu percaya padamu, Tata. Selain kepada Tuhan, kepadamulah aku ingin menyerahkan hidup dan matiku.
Tapi kau tak pernah mau tinggal lebih lama di hatiku, atau bahkan selamanya. Kau pergi tinggalkanku dengan alasan tidak ingin menyakiti kaummu. Ah, kenapa kamu se-idealis itu, Tata. Bukankah kau yang pertama hadir dalam hidupku, sebelum mereka. Itu berarti kamu punya hak lebih daripada mereka atas aku. Ya, akhirnya aku tersadar, hak yang kamu maksudkan mungkin adalah hak untuk melempar diriku jauh-jauh. Mungkin kau berkomitmen untuk tidak pernah menyakiti kaummu sekalipun mereka menyakitimu, tapi kau tak pernah berkomitmen untuk tidak menyakiti semua orang, sehingga aku yang tentu saja adalah lelaki yang tidak sekaum denganmu yang perempuan, luput dari empatimu, dari prinsip brilian dan mungkin juga berlebihan. Kau tidak pernah peduli, bahwa sikap yang kau ambil untuk menjaga perasaan kaum perempuan justru melewatkan nalar, bahwa ada seorang manusia lagi yang justru kau sakiti. Aku sakit terlalu parah, Tata. Belati itu terlalu dalam kau tancapkan dalam relung jiwa yang tak sempurna ini.
Aku masih ingat setelah seminggu kau memutuskan meninggalkanku, aku dengan segala rasa malu dan sedih datang ke rumahmu untuk mengajakmu kembali. Tapi itulah kamu, Tata. Perempuan sekeras baja, yang bahkan air mataku pun tak mampu meluluhkannya. Aku makin terluka. Sakit itu akhirnya memaksaku untuk meninggalkan nalar. Aku tak lagi mau mengingat tentang kata ‘jangan’ dan ‘tidak boleh’ yang sering kau katakan padaku. Akhirnya aku memilih nikotin dan alkohol untuk menjadi temanku. Tak ku pedulikan lagi bila dengan begitu cita-citaku hangus. Aku tak ingat lagi tentang cita-cita itu, Tata. Bagiku, kehancuran hubungan kita adalah kehancuran cita-citaku. Cita-citaku yang sebenarnya adalah bersamamu dan membahagiakanmu. Aku selalu paham, bahwa seorang perempuan meninggalkan kekasihnya terlebih karena dia tak pernah bahagia. Dan aku yakin, kamu tak bahagia bersamaku.
“Apa kamu pikir Tata bahagia bersamamu? Tidak sama sekali! Jangan pernah ganggu dia lagi. Aku tidak rela dia semakin terluka dan menderita. Carilah perempuan lain yang mau kau sakiti!” Aku masih ingat Adi membentakku, demikian juga Ibunya Adi yang tak lain adalah kakak misanku. Mereka menganggap aku membawa penderitaan padamu.
Dan mungkin itu benar. Selama bersamaku, kamu tidak pernah tertawa lepas seperti tadi pagi, ketika diam-diam aku mengikutimu saat kau bersama Adi. Yah, Adi sangat baik padamu. Dia bahkan bisa membuatmu tertawa.
Maafkan aku, Tata! Tadi sebenarnya aku ingin ke rumahmu, rumah orang tuamu, katamu, untuk mengunjungi orang tuamu yang begitu baiknya padaku, menganggapku seperti anaknya sendiri. Makanya aku tidak peduli bila harus bertemu lagi denganmu. Bertemu atau tidak denganmu, itu sama saja, tidak akan merubah keadaanku saat ini. Bertemu atau tidak denganmu, aku tetap tidak akan bisa melupakanmu. Ingatanku tentangmu sudah permanen. Kau tetap menduduki tahta tertinggi di hati yang rapuh ini. Makanya aku tidak peduli, jika aku harus bertemu denganmu. Meskipun tak bisa aku pungkiri, bahwa belati itu akan semakin dalam menikam. Mudah-mudahan senyum kedua orang tuamu bisa membuat hatiku sedikit lebih tenang. Itulah kenapa jauh-jauh aku bertolak dari Malang menuju rumahmu.
Tapi di ujung gang rumahmu, langkahku terhenti. Aku mengurungkan langkah untuk kerumah orang tuamu. Aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu, Tata. Aku sadar apa yang dikatakan Adi itu benar, akulah sumber penderitaanmu selama ini. Aku selalu salah untuk membuatmu bahagia. Entahlah, setiap cara yang kulakukan itu tak pernah benar.
Tata, di ujung hari ini, aku mencoba menikmati senja dengan mentari yang menukik tajam di ufuk barat. Biasanya kamu suka menikmati suasana seperti ini. Dan bagiku, tempat ini tetap kedamaian, tak pernah berubah. Aku bisa mengenang setiap apa dan bagaimana yang pernah kulalui bersamamu waktu itu.
Tata, dalam keresahan sepanjang jalanan yang kulalui, aku akhirnya memutuskan untuk meminta satu hal penting dalam hidupmu. Maafkan aku, Tata! Aku telah meminta pada Tuhan agar selamanya kau tetap sendiri. Sungguh, aku tidak pernah ikhlas jika harus melihatmu bersama yang lain.
Aku bisa menerima keputusanmu untuk pergi meninggalkanku, tapi aku mungkin tidak bisa menerima keputusan Tuhan jika harus melihatmu bersama yang lain. Itu pasti akan terasa lebih sakit dibandingkan dengan ketika kau minta mengakhiri apa yang sudah kita rangkai bersama.
Ingin rasanya aku berada di sampingmu, Tata. Menemanimu menunggu senja tiba, mendengarkan semua yang biasa kau ceritakan, tentang studimu, tentang organisasimu, dan tentang teman-temanmu... yang terakhir adalah cerita yang dulu sangat tidak kusukai. Aku selalu muak tiap mendengar kau memuji beberapa temanmu, tentang kemampuan mereka, tentang sikap baik mereka dan segala hal yang kau agungkan tentang mereka. Aku rasanya ingin membunuhmu setiap kali kau bercerita tentang orang lain, agar hanya aku orang terakhir yang berada di sampingmu.
Tata, aku selalu berharap masih ada kesempatan untuk bisa bercanda bersamamu, menikmati suaramu yang kadang serak karena terlalu sering memperlakukan diri seperti mesin, kecapekan, kurang istirahat. Sungguh aku ingin berada di sampingmu, Tata.
Kumohon, ijinkan aku menemanimu. Aku tidak bisa melihatmu sakit, Tata. Aku tahu Adi akan selalu ada untukmu. Dia mungkin teman yang baik atau apa pun istilahnya bagimu. Adi sangat menyayangimu. Tapi aku tetap tidak bisa diam melihatmu sakit. Aku ingin menemanimu... seperti Adi, dan lebih dari itu.
Tapi jika tidak boleh, aku tidak marah. Aku hanya ingin tetap meminta pada Tuhan, agar hanya Tuhan yang bisa menemanimu dan tak ada seorang pun yang berhak menemanimu.... Aku tlah kehilanganmu, makanya aku tidak ingin ada orang lain yang menemukanmu, setelah aku.
Akhinya, dengan sisa keegoisan yang ada, aku memutuskan bahwa aku tidak layak dipersalahkan. Aku memilih meninggalkannya karena tak ingin ada kaumku yang terluka. Pun aku memilih untuk tetap tak ingin bersamanya, karena aku benar-benar tidak ingin merusak janjiku pada Tuhan...
Hanya harapan agar dia bisa berbahagia dengan orang lain, seperti aku yang lebih berbahagia jika ia tinggalkan. Aku belum siap jika harus ada orang lain dalam hidupku selain orang tuaku. bukan karena takut sakit hati. bukankah aku tidak pernah sakit hati??? Aku baik-baik saja sekalipun harus tidak aman saat berada di sisinya. Dia masih menduduki peringkat teratas sebagai cowok paling laris dan palyboy paling anarkis yang pernah ku kenal. Hanya sedikit kebanggaan, karena aku satu-satunya yang pernah sukses membuatnya menangis.
"Maaf, hanya maaf yang bisa aku katakan. Aku hanya bersedia menjadi teman. hanya teman."